sumeleh

semua yang ada di alam semesta berdzikir kepada Allah Swt

Dari sini (ruang kerja) negara diurus, dan di sana (ia menunjuk masjid) tujuan kita.

Posted by heri purnomo on February 28, 2007

Saya selalu suka dengan Malaysia. Negeri Melayu ini sedang bergerak menuju negara maju, membangun dengan prinsip harga diri, semangat Islam dan Melayu. Negeri –yang dalam berberapa hal bersaing dengan Singapura– itu, seakan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Islam mendorong kemajuan. 

Malaysia –yang dahulu dalam banyak hal belajar dari Indonesia — seperti ingin mengembalikan kejayaan masa Umayyah (756-1031 M) di Cardova dan Alhambra, Spanyol. Andalusia, nama Spanyol masa itu, menjadi pusat ilmu pengetahuan modern Eropa. Melahirkan pemikir-pemikir besar di antaranya Al Farabi, Ibnu Rusyd (falsafah), dan Ibnu Sina (kedokteran). Malaysia menyebutkan kejayaan itu sebagai tamadun Islam. Tamadun berarti membangun masyarakat yang memiliki peradaban maju. Dalam setiap percakapan, tulisan, spanduk, dan juga pernyataan pers, kosa kata tamadun di negara multietnis ini mudah sekali ditemukan, di antaranya ada kalimat, ‘Memahat sejarah, mencipta tamadun.’ 

Selama sepekan atas undangan Institute of Strategic & International Studies (ISIS) Malaysia, saya bersama 12 wartawan Indonesia berkunjung ke Malaysia. Berbagai diskusi dan pertemuan dengan tokoh-tokoh Malaysia, termasuk Perdana Menteri Abdullah Badawi, semakin menyiratkan tekad besar negara ini untuk merebut kembali tamadun Islam. Dalam dialog jauh sebelumnya –kebetulan dalam beberapa kesempatan bertemu PM Badawi dan seniornya mantan PM Mahathir– tersirat keyakinan para pemimpin itu bahwa kemajuan Islam sangat mungkin muncul di Malaysia dan Indonesia, dua negara dengan masyarakat yang terbuka dan tidak dalam bara konflik seperti Timur Tengah. 

Malaysia tidak berwacana. Mereka merancang arah tamadun –culture, civilization– itu dalam konsep Islam Hadhari. Konsep ini mendorong kualitas hidup masyarakat, yang mempunyai peradaban unggul dalam menghadapi globalisasi, teknologi informasi, ekonomi global, budaya materialisme, krisis indentitas, dan penjajahan pemikiran. Dalam tataran negara, konsep ini mendorong sistem ekonomi, sistem keuangan yang dinamis, dan pembangunan terpadu serta seimbang. Konsep tersebut tentu dapat diperdebatkan, namun Malaysia telah membuat jalan yang sangat jelas bagi kemajuan rakyat dan harga diri mereka. Investasi Malaysia telah merambah ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Kini, mereka mempersiapkan infrastruktur Johor, negara bagian terdepan dengan Singapura, sebagai kawasan terpadu, mengantisipasi limpahan investasi dari negeri Singa itu, seperti Indonesia mempersiapkan Batam puluhan tahun lalu. 

Dalam teknologi, mereka menciptakan superkoridor layaknya Lembah Silikon. Akhir pekan lalu, Malaysia berhasil pula menciptakan mikrocip terkecil di dunia dengan ukuran 0,7 mm. Mikrocip yang memancarkan gelombang radio ini di antaranya dapat dipasang di dokumen, mata uang, VCD, dan lainnya, sehingga mudah dideteksi.  Malaysia sedang bergerak dalam keseimbangan. Mereka sangat yakin, Islam adalah rahmat dan sekaligus semangat bagi kamajuan. Dengan keyakinan itu, mereka menjalankannya. Jumat lalu di Putra Jaya, PM Badawi menerima wartawan-wartawan Indonesia. Ia berbicara tentang dunia dengan mengenakan pakaian Melayu –teluk belanga berwarna cerah dan peci hitam. Di jalan, remaja-remaja putri bergerak lincah dengan baju kurung. Saya selalu ingat kalimat bernas Badawi tiga tahun lalu, ketika menerima ulama-ulama Indonesia di kantornya. Ketika itu, sebelum mengantar kami ke mulut pintu ruang kerjanya, Badawi menyingkap gorden jendela yang berhadapan dengan Masjid Putra Jaya yang besar dan indah. Badawi berujar: “Dari sini (ruang kerja) negara diurus, dan di sana (ia menunjuk masjid) tujuan kita.” 

Para pemimpin Malaysia yang satu kata, mungkin sedang menanti waktu yang tak lama ini: Cardova dan
Alhambra baru.

dikutip dari Resonansi Republika : Penulis Asro Kamal Rokan

5 Responses to “Dari sini (ruang kerja) negara diurus, dan di sana (ia menunjuk masjid) tujuan kita.”

  1. Saya merindukan Indonesia bisa mengungguli Malaysia. Saya pernah ketemu orang Malaysia dan banyak yg mereka banggakan dg negerinya. Saya hanya bisa terdiam, menelan ludah, dan menerawang, kapan Indonesia maju.

    Salam
    FM

    Semoga saja kita bisa belajar balik dari mantan murid, mereka sama-sama bangsa melayu. Saya yakin bisa, hanya saja kita masih dalam posisi dijepit hutang ( sehingga layaknya negeri jajahan ), sementara korupsi tak kunjung surut. Mudah-mudahan ke depan akan muncul pemimpin seperti Mahathir ataupun Badawi.

    Oh ya.. btw, templatenya sudah diganti nih. Sepertinya lebih cantik yang dulu. Trims, blog Bang Fuad Muftie sudah saya masukkan ke blog roll. dan trims juga atas kunjungannya ke blog ini, semoga silaturahim ini membawa berkah. Amien.

  2. Apakah Indonesia bener2 diurus oleh orang yg ngaku pelayan masyarakat? Sepertinya kok tambah hancur saja. Bisa-bisa Dari sini (ruang kerja) dan disana tujuan kita (menunjuk jurang kehancuran).

  3. sekv said

    Kalau di Indonesia para pemimpinnya masih pada kurang imannya buktinya korupsi sangat merajalela, masyarakat Indonesia sendiri pun yang mengaku beragama Islam tapi banyak sekali yang kehidupannya jauh dari ajaran Islam, sangat disayangkan memang generasi mudanya banyak yg terjerumus dalam kehidupan bebas terlalu terpengaruh oleh budaya barat, bagaimana ya caranya mengajak masyarakat muslim Indonesia untuk kembali dalam keislaman dalam memperbaiki kehidupan bangsa ini ?

  4. abu muthiah said

    Subhanallah, sebagaimana nabi kita Muhammad SAW yang menjadikan masjid sebagai agent of change dari segala bidang. Kalau Indonesia–yang mempunyai masyarakat muslim paling banyak di dunia–dapat bercermin dari sikap nabi kita, insya Allah akan peradaban dunia akan semakin maju dan gemilang. bravo Indonesia.

  5. Salut untuk malaysia. Seharusnya kita harus banyak bekerjasama dengan malaysia. Bukan berpecahbelah sepertis sekarang ini. Wallah’alam siapa tau inilah yang diinginkan oleh orang-orang Yahudi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: