sumeleh

semua yang ada di alam semesta berdzikir kepada Allah Swt

Takut Miskin di Akhirat

Posted by heri purnomo on February 23, 2007

Ini hanya guyonan ma’rifat, bisa serius dan perlu direnungkan.

Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib
lima waktu.
 

”Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,” keluh si pemuda. 

”Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!” Jawab sang kiai. 

”Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?” 

”Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.” 

”Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat
lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi Allah belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah…” jawab pemuda itu dengan kesal.
 

”Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga Allah segera menjawab permintaanmu,” timpal kiai dengan ringan. 

Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi. Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yng sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda. 

”Anda siapa?” tanya pemuda.”Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.””Ohh… lalu ini istana siapa?””Ini istanamu, dari Allah. Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.””Ohh… dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya?””Betul!””Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya?””Betul sekali.” 

Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang. Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara. 

‘Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,” kata pemuda penuh keriangan. 

”Alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.” 

”Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai?””Tidak ada, karena Allah sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.” 

”Ya Allah, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya Allah kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,” ujar pemuda itu sadar diri. Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak. [dari guyon orang-orang makrifat, wibi ar].

dikutip dari Harian Republika

4 Responses to “Takut Miskin di Akhirat”

  1. agorsiloku said

    walah… nanti orang islam miskin semua ya.. Kemiskinan mendekatkan pada kekufuran. Begitu kata Nabi (ada hadisnya). Jadi ambil saja dong satu mutiaranya atau dua, yang satu diamalkan, satu dipakai…

  2. sumeleh said

    he..he.. mudah-mudahan gak diartikan demikian Pak Agor. Mungkin maksudnya, jika berdo’a terlalu materi oriented. Jadinya hamba materai. Kita justru diminta untuk memohon lebih besar lagi, kekayaan dunia akherat. Sekali merengkuh dunia, akheratpun terlampau. ( mudah2 ini bukan jawaban ngawur )

  3. agorsiloku said

    iya betul… ketika kita membaca kisah-kisah persufian, marifat, suhud atau sejenisnya ada usaha pelarian dari dunia ke akhirat. Menurut saya, kisah-kisah itu tidak membentuk etos dunia dan akhirat. Jika bangsa kita dicekoki terus sama urusan ke atas yang tidak diimbangi dengan keduniawian yang memadai, kita akan semakin tertinggal. Spirit Islam adalah dunia dan akhirat yang berada dalam konteks la haula quwatta ila billah. Tanpa etos yang dibangun, maka kisah-kisah teladan menjadi serpihan yang secara perlahan-lahan juga membunuh kemajuan.
    Hanya wacana, jangan ambil ke hati ya…..

  4. rizaksp said

    Kenapa Ingkar dengan janji Allah?

    Bukankah Allah berfirman : ” Pikirkanlah Akhiratmu maka dunia akan Aku pikirkan”.

    Anda Bisa menulis/membaca di Blog ini karena punya uang kan? apa anda sadar dari mana uang tersebut?Dari Upah anda atau dari Belas kasih orang lain? Kenapa anda tidak sadar bahwa rejeki anda sampai detik ini dari Allah semata?

    Bukankah janjiNya Allah bahwa Harta kaum Kafir dilebihkan dari kaum muslim?karena mereka selalu merasa harta didapat dari hasil jerih payah mereka bukan dari Allah. Jikalau kita bekerja kemudian mendapat upah itu hanya caranya Allah untuk memberikan rejeki kepada kita karena rejeki tidak mungkin jatuh dari langit, kecuali anda memakai Babi Ngepet untuk cari Uang Nauzubillah.

    Jikalau Allah memberikan harta yang berlebih pada kita, apakah kita ingat bahwa di dalam harta kita ada haknya anak yatim,janda miskin, kaum dhuafa? Ingat, sedekah adalah pupuknya harta.

    Allah memberi rejeki pada kita semata-mata hanyalah ujianNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: