sumeleh

semua yang ada di alam semesta berdzikir kepada Allah Swt

Juklak Sederhana

Posted by heri purnomo on September 11, 2006

From : Adhika Dirgantara’s Weblog

Dalam kesempatan langka berdiskusi dengan Abdullah Gymnastiar di masjid kantor awal pekan lalu, ada tiga hal sederhana namun menarik yang saya coba catat. Diskusi ini agak langka karena kehadiran Aa Gym memang ‘tidak terlalu direncanakan’, semacam sekedar mampir sebelum memberikan pencerahan dalam kajian rutin di masjid Al Azhar Kebayoran pada malam harinya. Diskusi di masjid kantor sendiri dilangsungkan setelah sholat ashar berjama’ah.

Dalam diskusi singkat tersebut Aa Gym sedikit menguraikan mengenai penunaian tugas manusia seutuhnya dalam konsep yang sederhana, saya menangkapnya sebagai semacam juklak (petunjuk pelaksanaan) bagi tiap-tiap manusia dalam menunaikan setiap tantangan kehidupan yang menghampiri. Tiga hal tersebut adalah meluruskan niat, menyempurnakan ikhtiar (usaha) dan menggenapkan tawakal (penyerahan diri).

Sudah sepatutnya bahwa dalam setiap penunaian tugas, manusia menyandarkan niatnya pada keridhoan Allah SWT semata, orientasi ketuhanan yang pekat dan ketat. Tidak berharap pada hal lain selain bahwa apa yang dia akan kerjakan itu adalah hal yang sekiranya mendatangkan keridhoan Allah. Jika kemudian hasil kerjanya itu menghadirkan pujian orang, membuatnya populer, orang jadi lebih suka pada dirinya dan hal-hal lain, itu tidak lebih sebagai efek samping saja yang kemungkinan besar hadir sebagai sebentuk cobaan hidup berikutnya, namun substansi niatan tetap bersandar pada lillahi ta’ala semata. Ini yang bisa saya tangkap dari poin meluruskan niat.

Usaha yang sungguh-sungguh menjadi prosedur berikutnya yang harus ditunaikan setelah niatan yang lurus. Agak naif ketika niat telah lurus dengan orientasi ketuhanan, namun pelaksanaannya tidak dalam proporsi yang semestinya, lebih tragis lagi jika hanya mengharapkan keajaiban dalam penggapaian hasilnya. Ikhtiar merupakan bagian dari proses secara keseluruhan.

Prosedur terakhir yang juga tidak sepatutnya dilupakan ketika niatan telah lurus dan ikhtiar telah sempurna adalah tawakal yang genap, pengembalian seluruh daya upaya kepada kekuasaan Allah untuk menentukan hasil yang sepatutnya. Sebuah deklarasi pengakuan akan eksistensi terhadap kekuatan yang maha besar, jauh lebih besar dari upaya meluruskan niat dan ikhtiar yang telah disempurnakan, jauh lebih tahu mana hasil yang lebih baik untuk ditetapkan. Sebuah kesadaran seutuhnya bahwa hasil tidak selalu berbanding lurus dengan harapan yang telah tergambar dalam pikiran dan angan. Apa yang baik menurut kita dalam dimensi keduniaan belum tentu baik hakikinya karena kehidupan (ternyata) juga menyangkut dimensi akhirat (ukhrowi) tidak melulu keduniaan. Sehingga sudah sepatutnya manusia mampu berlapang dada terhadap hasil yang ditetapkan, apapun itu. Tidak perlu terlalu berpusing ria selama juklak sederhana ini telah ditunaikan dengan semestinya, toh Allah melihat proses bukan (sekedar) hasil.

Juklak yang sederhana dan memang begitulah sepatutnya, meski realisasi tidaklah sesederhana uraian. Dan tugas manusia pulalah untuk terus mencoba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: