sumeleh

semua yang ada di alam semesta berdzikir kepada Allah Swt

Bila Selalu Mengingat Mati

Posted by heri purnomo on June 24, 2006

K.H. Abdullah Gymnastiar
Ketua Ponpes Daarut-Tauhiid – Bandung
Sehalus-halus kehinaan di sisi ALLOH adalah tercerabutnya kedekatan kita dari
sisi-Nya. Hal ini biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang jauh dari meningkat,
atau bahkan malah menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya, tidak bertambah
pula ilmu yang dapat membuatnya takut kepada ALLOH, bahkan justru maksiat
pun sudah mulai dilakukan, dan anehnya yang bersangkutan tidak merasa rugi.
Inilah tanda-tanda akan tercerabutnya nikmat berdekatan bersama ALLOH Azza
wa Jalla.


Pantaslah bila Imam Ibnu Athoillah pernah berujar, “Rontoknya iman ini akan
terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa
habis tandas tidak tersisa”. Demikianlah yang terjadi bagi orang yang tidak
berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Karenanya jangan pernah
permainkan nikmat iman di hati ini.
Ada sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya di forum ini ada
hikmah yang bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu nampak
begitu rajin beribadah, saat shalat tak lepas dari linang air mata, shalat tahajud pun
tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk berjamaah ke mesjid.
Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Karenanya
diantara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya segera terlunasi.
Selang beberapa lama, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya dan Maha
Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang rekan tersebut.
Sayangnya begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk
beribadah. Biasanya kehilangan shalat tahajud menangis tersedu-sedu, “Mengapa
Engkau tidak membangunkan aku, ya ALLOH?!”, ujarnya seakan menyesali diri.
Tapi lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadual tidur
menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju mesjid, tapi
akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika azan
tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan selesai justru
masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat di rumah saja.
Begitupun untuk shalat sunat, biasanya ketika masuk mesjid shalat sunat tahiyatul
mesjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat rawatib. Tapi
sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri menunggu iqamat,
selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu shaf paling awal, kini
yang diburu justru shaf paling tengah, hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok,
bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, dengan alasan supaya tidak
terlambat dua kali. “Kalau datang terlambat, maka ketika pulang aku tidak boleh
terlambat lagi, pokoknya harus duluan!” Pikirnya.
Saat akan shalat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan di
rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari
atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan.
Bahkan pergi ke majlis ta’lim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana
saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah hilang.
Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang
diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut.
Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa
kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. Saat-saat
berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan keuatan ruhiah, tidak ada
sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai mengeras.
Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercerabut satu persatu, maka inilah
tanda-tanda sudah tercerabutnya taupiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah
ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar,
mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. Apalagi ketika
ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai
lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain
nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang
keyakinannya kepada ALLOH. Inilah yang disebut suul khatimah (jelek di akhir),
naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau akhirnya seperti ini.
Ada lagi sebuah kisah pilu ketika suatu waktu bersilaturahmi ke Batam. Kisahnya
ada seorang wanita muda yang tidak bisa menjaga diri dalam pergaulan dengan
lawan jenisnya sehingga dia hamil, sedangkan laki-lakinya tidak tahu entah kemana
(tidak bertanggung jawab). Hampir putus asa ketika si wanita ini minta tolong
kepada seorang pemuda mesjid. Ditolonglah ia untuk bisa melakukan persalinan di
suatu klinik bersalin, hingga ia bisa melahirkan dengan lancar. Walau tidak jelas
siapa ayahnya, akhirnya si wanita ini pun menjadi ibu dari seorang bayi mungil.
Sayangnya, sesudah beberapa lama ditolong, sifat-sifat jahiliyahnya kambuh lagi.
Mungkin karena iman dan ilmunya masih kurang, bahkan ketika dinasihati pun tidak
mempan lagi hingga akhirnya dia terjerumus lagi. Demikianlah kisah si wanita ini, ia
kembali hamil di luar nikah tanpa ada pria yang mau bertanggung jawab.
Lalu ditolonglah ia oleh seseorang yang ternyata aqidahnya beda. Si orang yang
akan membantu pun menawarkan bantuan keuangan dengan catatan harus pindah
agama terlebih dulu. Si wanita pun menyetujuinya, dalam hatinya “Toh hanya untuk
persalinan saja, setelah melahirkan aku akan masuk Islam lagi”. Tapi ternyata
ALLOH menentukan lain, saat persalinan itu justru malaikat Izrail datang
menjemput, meninggalah si wanita dalam keadaan murtad, naudzhubillah.
Cerita ini nampaknya bersesuaian pula dengan sebuah kisah klasik dari Imam Al
Ghazali.
Suatu ketika ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi muazin di sebuah
menara tinggi di samping mesjid. Kebetulan di samping mesjid itu adapula sebuah
rumah yang ternyata dihuni oleh keluarga non-muslim, diantara anak-anak keluarga
itu ada seorang anak perempuan berparas cantik yang sedang berangkat ramaja.
Tiap naik menara untuk azan, secara tidak disengaja tatapan mata sang muazin
selalu tertumbuk pada si anak gadis ini, begitu pula ketika turun dari menara.
Seperti pepatah mengatakan “dari mata rurun ke hati”, begitulah saking seringnya
memandang, hati sang muazin pun mulai terpaut akan paras cantik anak gadis ini.
Bahkan saat azan yang diucapkan di mulut Allahuakbar-Allahuakbar, tapi hatinya
malah khusyu memikirkan anak gadis itu.
Karena sudah tidak tahan lagi, maka sang muazin ini pun nekad mendatangi rumah
si anak gadis tersebut dengan tujuan untuk melamarnya. Hanya sayang, orang tua si
anak gadis menolak dengan mentah-mentah, apalagi jika anaknya harus pindah
keyakinan karena mengikuti agama calon suaminya, sang muazin yang beragama
Islam itu. “Selama engkau masih memeluk Islam sebagai agamamu, tidak akan
pernah aku ijinkan anakku menjadi istrimu” ujar si Bapak, seolah-olah memberi
syarat agar sang muazin ini mau masuk agama keluarganya terlebih dulu.
Berpikir keraslah sang muazin ini, hanya sayang, saking ngebetnya pada gadis ini,
pikirannya seakan sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Hingga akhirnya di
hatinya terbersit suatu niat, “Ya ALLOH saya ini telah bertahun-tahun azan untuk
mengingatkan dan mengajak manusia menyembah-Mu. Aku yakin Engkau telah
menyaksikan itu dan telah pula memberikan balasan pahala yang setimpal. Tetapi
saat ini aku mohon beberapa saat saja ya ALLOH, aku akan berpura-pura masuk
agama keluarga si anak gadis ini, setelah menikahinya aku berjanji akan kembali
masuk Islam”. Baru saja dalam hatinya terbersit niat seperti itu, dia terpeleset jatuh
dari tangga menara mesjid yang cukup tinggi itu. Akhirnya sang muazin pun
meninggal dalam keadaan murtad dan suul khatimah.
Kalau kita simak dengan seksama uraian-uraian kisah di atas, nampaklah bahwa
salah satu hikmah yang dapat kita ambil darinya adalah jikalau kita sedang berbuat
kurang bermanfaat bahkan zhalim, maka salah satu teknik mengeremnya adalah
dengan ‘mengingat mati’. Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal, padahal kita
sedang berbuat maksiat, zhalim, atau aniaya? Tidak takutkah kita mati suul
khatimah? Naudzhubillah. Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting
setelah doa dan ikhtiar kita dalam memelihara iman di relung kalbu ini. Artinya
kalau ingin meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, maka selalulah ingat mati.
Dalam hal ini Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu
mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah keluar menuju mesjid.
Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yangsedang mengobrol dan tertawa. Maka
beliau bersabda, “Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam
kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan
tertawa sedikit dan banyak menangis.”
Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita seakan punya rem yang kokoh dari
berbuat dosa dan aniaya. Akibatnya dimana saja dan kapan saja kita akan
senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat.
Begitupun ketika misalnya, mendengarkan musik ataupun nyanyian, yang
didengarkan pasti hanya yang bermanfaat saja, seperti nasyid-nasyid Islami atau
bahkan bacaan Al Quran yang mengingatkan kita kepada ALLOH Azza wa Jalla.
Sehingga kalaupun malaikat Izrail datang menjemput saat itu, alhamdulillah kita
sedang dalam kondisi ingat kepada ALLOH. Inilah khusnul khatimah.
Bahkan kalau kita lihat para arifin dan salafus shalih senantiasa mengingat kematian,
seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Dan seorang kekasih
tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah r.a.
bahwa ketika kematian menjemputnya, ia berkata, “Kekasih datang dalam keadaan
miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya ALLOH, jika
Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai
daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka
mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu.”
Akhirnya, semoga kita digolongkan ALLOH SWT menjadi orang yang beroleh
karunia khusnul khatimah. Amin! ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: