sumeleh

semua yang ada di alam semesta berdzikir kepada Allah Swt

Nikmati Proses

Posted by heri purnomo on June 23, 2006

K.H. Abdullah Gymnastiar
Ketua Ponpes Daarut-Tauhiid – Bandung

Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa?
Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil.
Kalau hasil itu ALLOH yang menetapkan, tapi bagi kita punya kewajiban untuk
menikmati dua perkara yang dalam aktivitas sehari-hari harus kita jaga, yaitu
selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha
menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah ALLOH SWT.
Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya
bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka, karena menang-kalah itu akan
selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah
bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena ALLOH dan selama berjuang itu
akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu seperti ini,
sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh
berarti bisa jadi syuhada. Ketika jualan dalam rangka mencari nafkah untuk
keluarga, maka masalah yang terpenting bagi kita bukanlah uang dari jualan itu,
karena uang itu ada jalurnya, ada rizkinya dari ALLOH dan semua pasti
mendapatkannya. Karena kalau kita mengukur kesuksesan itu dari untung yang
didapat, maka akan gampang sekali bagi ALLOH untuk memusnahkan untung yang
didapat hanya dalam waktu sekejap. Dibuat musibah menimpanya, dikenai bencana,
hingga akhirnya semua untung yang dicari berpuluh-puluh tahun bisa sirna
seketika.
Walhasil yang terpenting dari bisnis dan ikhtiar yang dilakukan adalah
prosesnya. Misal, bagaimana selama berjualan itu kita selalu menjaga niat agar
tidak pernah ada satu miligram pun hak orang lain yang terambil oleh kita,
bagaimana ketika berjualan itu kita tampil penuh keramahan dan penuh kemuliaan
akhlak, bagaimana ketika sedang bisnis benar-benar dijaga kejujuran kita, tepat
waktu, janji-janji kita penuhi. Dan keuntungan bagi kita ketika sedang berproses
mencari nafkah adalah dengan sangat menjaga nilai-nilai perilaku kita. Perkara
uang sebenarya tidak usah terlalu dipikirkan, karena ALLOH Maha Tahu kebutuhan
kita lebih tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tidak akan terangkat oleh
keuntungan yang kita dapatkan, tapi kita akan terangkat oleh proses mulia yang
kita jalani. Ini perlu dicamkan baik-baik bagi siap pun yang sedang bisnis bahwa
yang termahal dari kita adalah nilai-nilai yang selalu kita jaga dalam proses.
Termasuk ketika kuliah bagi para pelajar, kalau kuliah hanya menikmati hasil
ataupun
hanya ingin gelar, bagaimana kalau meninggal sebelum diwisuda? Apalagi kita
tidak tahu kapan akan meninggal. Karenanya yang paling penting dari perkuliahan,
tanya dulu pada diri, mau apa dengan kuliah ini? Kalau hanya untuk mencari isi
perut, kata Imam Ali, “Orang yang pikirannya hanya pada isi perut, maka derajat
dia tidak akan jauh beda dengan yang keluar dari perutnya”. Kalau hanya ingin
cari uang, hanya tok uang, maka asal tahu saja penjahat juga pikirannya hanya
uang.
Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita
meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga akhirnya hidup kita
bisa lebih meningkat manfaatnya. Kita tingkatkan kemampuan salah satu tujuannya
adalah agar dapat meningkatkan kemampuan orang lain. Kita cari nafkah sebanyak
mungkin supaya bisa mensejahterakan orang lain.
Dalam mencari rizki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga, ketika sedang
mencari kita sangat jaga nilai-nilainya, dan ketika dapat kita distribusikan
sekuat-kuatnya. Inilah yang sangat penting. Dalam perkuliahan, niat kita mau apa
nih? Kalau mau sekolah, mau kuliah, mau kursus, selalu tanyakan mau apa nih?
Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda, karena belum tentu kita
masih hidup ketika kursus selesai. Ah, Sahabat. Kalau kita selama kuliah,
selama sekolah, selama kursus kita jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai
kejujuran, etika, dan tidak mau nyontek lalu kita meninggal sebelum diwisuda?
Tidak ada masalah, karena apa yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan.
Karenanya jangan terlalu terpukau dengan hasil.
Saat melamar seseorang, kita harus siap menerima kenyataan bahwa yang dilamar
itu belum tentu jodoh kita. Persoalan kita sudah datang ke calon mertua, sudah
bicara baik-baik, sudah menentukan tanggal, tiba-tiba menjelang pernikahan
ternyata ia mengundurkan diri atau akan menikah dengan yang lain. Sakit hati sih
wajar dan manusiawi, tapi ingat bahwa kita tidak pernah rugi kalau niatnya sudah
baik, caranya sudah benar, kalaupun tidak jadi nikah dengan dia. Siapa tahu
ALLOH telah menyiapkan kandidat lain yang lebih cocok. Atau sudah daftar mau
pergi haji, sudah dipotret, sudah manasik, dan sudah siap untuk berangkat,
tiba-tiba kita menderita sakit sehingga batal untuk berangkat. Apakah ini suatu
kerugian? Belum tentu! Siapa tahu ini merupakan nikmat dan pertolongan dari
ALLOH, karena kalau berangkat haji belum tentu mabrur, mungkin ALLOH tahu
kapasitas keimanan dan kapasitas keilmuan kita.
Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil, karena hasil yang bagus
menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan ALLOH. Kalau misalnya
kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yang mampu kita kelola. Suatu saat
ALLOH memberikan untung satu milyar, nah untung ini justru bisa jadi musibah
buat kita. Karena setiap datangnya rizki akan efektif kalau iman kitanya bagus
dan kalau ilmu kitanya bagus. Kalau tidak, datangnya uang, datangnya gelar,
datangnya pangkat, datangnya kedudukan, yang tidak dibarengi kualitas pribadi
kita yang bermutu sama dengan datangnya musibah. Ada orang yang hina gara-gara
dia punya kedudukan, karena kedudukannya tidak dibarengi dengan kemampuan mental
yang bagus, jadi petantang-petenteng, jadi sombong, jadi sok tahu, maka dia jadi
nista dan hina karena kedudukannya.
Ada orang yang terjerumus, bergelimang maksiat gara-gara dapat untung. Hal ini
karena ketika belum dapat untung akan susah ke tempat maksiat karena uangnya
juga tidak ada, tapi ketika punya untung sehingga uang melimpah-ruah tiba-tiba
dia begitu mudahnya mengakses tempat-tempat maksiat.
Nah, Sahabat. Selalulah kita nikmati proses. Seperti saat seorang ibu membuat
kue lebaran, ternyata kue lebaran yang hasilnya begitu enak itu telah melewati
proses yang begitu panjang dan lama. Mulai dari mencari bahan-bahannya,
memilah-milahnya, menyediakan peralatan yang pas, hingga memadukannya dengan
takaran yang tepat, dan sampai menungguinya di open. Dan lihatlah ketika sudah
jadi kue, baru dihidangkan beberapa menit saja, sudah habis. Apalagi biasanya
tidak dimakan sendirian oleh yang membuatnya. Bayangkan kalau orang membuat kue
tadi tidak menikmati proses membuatnya, dia akan rugi karena dapat capeknya
saja, karena hasil proses membuat kuenya pun habis dengan seketika oleh orang
lain. Artinya, ternyata yang kita nikmati itu bukan sekedar hasil, tapi proses.
Begitu pula ketika ibu-ibu punya anak, lihatlah prosesnya. Hamilnya sembilan
bulan, sungguh begitu berat, tidur susah, berbaring sulit, berdiri berat, jalan
juga limbung, masya ALLOH. Kemudian saat melahirkannya pun berat dan sakitnya
juga setengah mati. Padahal setelah si anak lahir belum tentu balas budi. Sudah
perjuangan sekuat tenaga melahirkan, sewaktu kecil ngencingin, ngeberakin,
sekolah ditungguin, cengengnya luar biasa, di SD tidak mau belajar (bahkan yang
belajar, yang mengerjakan PR justru malah ibunya) dan si anak malah jajan saja,
saat masuk SMP mulai kumincir, masuk SMU mulai coba-coba jatuh cinta.
Bayangkanlah kalau semua proses mendidik dan mengurus anak itu tidak pakai
keikhlasan, maka akan sangat tidak sebanding antara balas budi anak dengan
pengorbanan ibu bapaknya. Bayangkan pula kalau menunggu anaknya berhasil,
sedangkan prosesnya sudah capek setengah mati seperti itu, tiba-tiba anak
meninggal, naudzhubillah, apa yang kita dapatkan?
Oleh sebab itu, bagi para ibu, nikmatilah proses hamil sebagai ladang amal.
Nikmatilah proses mengurus anak, pusingnya, ngadat-nya, dan rewelnya anak
sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mendidik anak, menyekolahkan anak, dengan
penuh jerih payah dan tetesan keringat sebagai ladang amal. Jangan pikirkan
apakah anak mau balas budi atau tidak, sebab kalau kita ikhlas menjalani proses
ini, insya ALLOH tidak akan pernah rugi. Karena memang rizki kita bukan apa yang
kita dapatkan, tapi apa yang dengan ikhlas dapat kita lakukan. ***

One Response to “Nikmati Proses”

  1. ahmad kaspudin said

    aku udah coba untuk menjalani proses ujian semester dengan aturan yang udah ditetapkan…..aku juga pingin punya keinginan kegembiraan,seperti kebanyakan teman-temanku mempunyai hasil ujianku tinggi……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: