sumeleh

semua yang ada di alam semesta berdzikir kepada Allah Swt

Adakah Amal yang Tetap Bermakna?

Posted by heri purnomo on June 9, 2006

K.H. Abdullah Gymnastiar
Ketua Ponpes Daarut-Tauhiid – Bandung

Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan
tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah
yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya
akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan
oleh ujian dan kesusahan, jadi meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan Allah datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuan bersenang-senangnya bersama Allah malah menghilang.


Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan saja tiba-tiba saja ibadahnya meningkat shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusyu tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan,
justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah manikah berusaha lebih gigih lagi dalam
ber-taqarub kepada Allah sebagai bentuk ingkapan rasa syukur.
Ketika berwudhu, misalnya ternyata disamping ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani,
wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada
siapa pun yang melihat, wudhu kitapun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.
Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Qur’an kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan
agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat
dan cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan bagus.
Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik ketidakikhlasannya ibadah-ibadah kita ini. Karenanya
kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi
kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.
Hal ini berbeda dengan hamba-hamba-Nya yang telah menggapai maqam ikhlas, maqam dimana
seorang hamba mampu beribadah secara istiqomah dan terus-menerus berkesinambungan. Ketika
diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan Allah. Sedangkan
ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan ber-
syukur lagi atas nikmat-Nya ini. Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya
dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikan adalah sama saja. Berbeda dengan
orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain
memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani.
Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini.
Betapa tidak? Orang-orang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi
orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan
sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus.
Berkaitan dengan niat ini seorang ulama ahli hikmah berkata, “Terkadang amal yang sedikit
menjadi banyak oleh sebab niat, dan sebaliknya kadangkala amal yang banyak menjadi sedikit
hasilnya, juga karena niat!”.
Pantaslah bila Yahya bin Abi Katsir menganjurkan kepada kita untuk senantiasa mempelajari
dan mengetahui akan pentingnya niat ini dalam beramal, dia berkata, “Pelajarilah niat, karena
ia lebih menyampaikan kepada tujuan ketimbang amal”.
Rasulullah SAW sendiri menasihatkan kepada kita, “Bahwa sesungguhnya amal itu tergantung
kepada niatnya, dan bagi seseorang adalah apa yang ia niatkan. Maka, barangsiapa yang niat
hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia atau karena perempuan yang ingin dinikahinya,
maka hijrahnya itu adalah kepada apa yang ditujunya.” (H.R Bukhari)
Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya
lurus kepada Allah saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, “Bismillahirrahmanirrahiim,
ya Allah semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan”. Lisannya yang bening senantiasa me-
muji Allah atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan
kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada Allah.
Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak mendapatkan pertambahan
nilai apapun, selain menaruh (maaf!) pantat dikursi. Tidak usha heran bila suatu saat Allah memberi
peringatan dengan sakit ambeien atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk adalah
anugerah nikmat yang Allah karuniakan kepada kita.
Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya di lubuk hati yang
paling dalam kita meyakini bahwa Allah-lah yang memberi makan tiap hari, tiada satu hari pun yang
luput dari limpahan curahan nikmatnya.
Kalau membeli sesuatu, diperhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan karena Allah. Ketika
membeli kendaraan, niatkan karena Allah. Karena menurut Rasulullah SAW, kendaraan itu ada
3 jenis, 1) Kendaraan untuk Alah 2) Kendaraan untuk syetan 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri.
Apa cirinya ? Kalau niatnya benar, dipakai untuk maslahat ibadah, maslahat agama, maka inilah
kendaraan untuk Allah. Tapi kalau sekedar untuk pamer, riya, ujub maka inilah kendaraan untuk
syetan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya sendiri, misalkan kuda dipelihara, dikembangbiakan
dipakai tanpa niat, maka inilah kendaraan untuk dirinya sendiri.
Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah karena Allah.
Karenanya bermohon saja kepada Allah, “Ya Allah saya butuh kendaraan yang layak, yang
bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa meringankan untuk berbuat amal, yang
bisa meringankan dalam menjaga amanah”. Subhanallah bagi orang yang telah meniatkan
seperti ini, maka bensinnya, tempat duduknya, shockbreaker-nya dan semuanya dari ken-
daraan itu ada dalam timbangan kebaikan, insya Allah. sebaliknya jika digunakan untuk
maksiat, maka kita jugalah yang akan menanggung balasan dosanya.
Kedahsyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal,
walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum mengamalkannya.
inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat, misalkan, hati sudah bulat me-
niatkan mau bangun malam untuk tahajud, “Ya Allah saya ingin tahajud jam 03.30 ya
Allah”. Weker pun diputar, istri diberitahu. Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat
akan bangun tahajud.
Sayangnya ketika terbangun ternyata sudah azan subuh. Bagi hamba yang ikhlas, justru
dia akan gembira bercapur sedih. Sedih karena tidak kebagian shalat tahajud dan gembira
karena masih kebagian pahalanya. Bagi yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak di-
bangunkan oleh Allah, maka kalau ia sudha bertekad, Allah pasti akan memberikan pahalanya.
mungkin ALlah tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras tenaga. Allah Mahatau apa
yang akan terjadi, Allah juga Mahatau bahwa kita mungkin telah defisit energi karena
kesibukan kita terlalu banyak. Hanya Allah-lah yang menidurkan kita dengan pulas.
Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna,
akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala yang setimpal.
Subhanallah.

One Response to “Adakah Amal yang Tetap Bermakna?”

  1. Semalam said

    hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: