Aib itu laksana bangkai, membicarakan aib orang lain = memakan bangkai !
Posted by heri purnomo on March 1, 2007
Dalam kitab Asbabun Nuzul karya KH Qamaruddin Shaleh dkk, disebutkan Salman al Farisi, salah seorang sahabat Rasulullah SAW, jika selesai makan ia terus tidur dan mendengkur. Perbuatan ini kemudian dipergunjingkan oleh orang-orang yang mengetahui perilaku Salman. Akibatnya, ‘aib’ ini tersebar luas. Atas kejadian ini Allah menurunkan ayat, ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al Hujurat [49]: 12).
Dalam ayat di atas Allah melarang orang-orang yang beriman berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan melarang bergunjing. Bahkan, Allah mengumpamakan mereka yang gemar bergunjing (ghibah) seperti orang yang memakan daging saudaranya yang sudah mati. Sungguh suatu perbuatan yang bukan saja mendatangkan dosa, tapi juga amat menjijikkan. Namun, fakta dalam masyarakat kita saat ini, membuka aib orang lain, sudah menjadi menu sehari-hari. Sudah menjadi ‘tradisi’. Lihat isi tayangan televisi, penuh dengan gosip yang intinya membuka aib orang lain.
Begitupun dengan media massa yang lain seperti koran dan majalah. Tayangan pembuka aib seseorang ini terus saja marak kendati Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memfatwakan haram. Membuka aib orang lain, apalagi sesama Muslim, sama seperti membuka aib sendiri. Sebab, seorang Muslim terhadap Muslim yang lain ibarat satu tubuh. Jika ada satu bagian tubuh yang sakit, bagian tubuh yang lain akan merasakan sakit juga. Tak cuma itu, jika kita gemar membuka aib orang lain, aib diri sendiri, cepat atau lambat, akan terbuka juga. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abi Barzah Al Aslami mengatakan, ”…. Jangan sekali-kali kamu bergunjing terhadap kaum Muslimin, dan jangan sekali-kali mencari noda atau auratnya. Karena, barangsiapa yang mencari-cari noda kaum Mukminin, Allah akan membalas pula dengan membuka noda-nodanya.” Na’udzubillahi min dzalika, semoga kita terhindar dari perbuatan demikian.
Berkenaan dengan itu mari kita memperbanyak doa sebagaimana Rasulullah ajarkan kepada para sahabatnya agar aib kita tidak terbuka, Allahumma laa tada’lana dzanban illa ghafartahu, wala ‘ayban illa satartahu. Ya Allah, janganlah Engkau biarkan pada diri kami dosa kecuali Engkau ampunkan. Dan janganlah Engkau biarkan aib pada diri kami kecuali Engkau tutupi.
dikutip dari Resonansi Republika, tulisan Rusdiono Mukri
helgeduelbek said
Bagaimana kalau kita ketemu seorang ustadz yang sering membicarakan keburukan orang lain. Sedangkalau diingatkan alasannya ini untuk contoh.
sumeleh said
Siapapun dia, kewajiban kita hanya amar ma’ruf nahi munkar pak. Sekedar menyampaikan saja. Kalo tidak digubris dengan berbagai macam alasan, itu sudah lepas dari tanggung jawab kita lagi. Nabi juga tak berhasil membujuk pamannya untuk masuk ke naungan Islam, padahal beliau seorang nabi. Apalagi kita ?
Bahkan jika toh kita tak bisa mencegah dengan lisan, cukup dengan tidak senang dengan kemungkaran itu sendiri, meskipun itu selemah-lemah iman.
( ini hanya jawaban seorang awam yang sekaligus menasehati dirinya sendiri pak. Maaf kalo tidak memuaskan. ) Oh ya, terima kasih atas silaturahimnya.
darman said
ya ya benar juga, membuka aib orang lain sama aja dengan membuka aib sendiri… kalo aku copy paste ke blog aku boleh gak yaaa….???
sumeleh said
silahkan Pak Darman, terima kasih atas kunjungannya.
urip said
Memang satu muslim dengan muslim harus saling menghargai sehingga tercipta suasana saling mengisi
imtiazsofea said
minta kebenaran untuk disebar artikel ini….syukran..
satria said
assalamualaikum. wr. wb
apakah salah kalo kita masih tetap menutupi aib kita kepada seseorang yang kita calonkan untuk menjadi pasangan kiat suatu saat nanti,,?
terima kasih
satria said
Assalamualaikum. Wr. Wb
apakah salah kao kita masih tetap menyembunyikan aib kita kepada seseorang yang akan kita calonkan menjadi pendamping kita nanti,,?
terima kasih
wasslamualikum,,