sumeleh

semua yang ada di alam semesta berdzikir kepada Allah Swt

Terima Kasih Istriku : Yuk kita wujudkan Keluarga Sakinah

Posted by heri purnomo on February 24, 2007

Sebuah keluarga sakinah, tentu merupakan obsesi seorang muslim. Keluarga yang dapat menjadi surga dan tempat berlabuh saat usai mengayuh bahtera kehidupan. Namun di akhir zaman ini, perahu keluarga banyak yang terombang-ambing, yang kadang dimulai dari hal-hal kecil dan terlihat remeh, namun justru itu awal mula sebuah keretakan. “ 

Rasulullah saw telah bersabda: “Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika ia berkumpul dalam diri seseorang akan dapat membinasakannya.” (HR ahmad dan Thabrani dalam Al Awsath) . Kita liha saat ini, mungkin pesan Rasulullah itu banyak tidak dihiraukan oleh kita. Benarkah seperti itu ? Untuk itu saya kutipkan tulisan yang manis dari Zaim Uchrowi, yang juga merupakan pengalaman hidup beliau, mudah-mudahan ada manfaatnya buat kita. Amien. 

Friom Resonansi Republika :  Zaim Uchrowi  

 

Kemarin, tanggal 22 Februari, genap 20 tahun kami menikah. Sebuah angka yang belum apa-apa bagi banyak pasangan luar biasa. Mereka bisa merayakan ‘kawin perak 25 tahun’, ‘kawin emas’ 50 tahun, atau bahkan lebih. Buat mereka, pencapaian pernikahan 20 tahun tentu cuma pencapaian para pemula. 

Namun bagi saya dan istri, (baru) 20 tahun pernikahan adalah karunia besar. Di generasi kami, tak banyak yang mampu melewati waktu sependek itu secara mulus. Sejumlah orang yang saya kenal baik gagal melanjutkan pernikahannya. Alasannya beragam. Padahal, banyak di antara mereka yang berpendidikan tinggi. Kadang pengetahuan agamanya juga tak diragukan. Kenapa begitu?  

Sesekali saya dan istri mendiskusikannya. Kami sepakat: Penyebab tersering perceraian adalah selingkuh. Ketika salah satu pihak mulai mencederai komitmen awalnya dan berselingkuh, goyahlah sendi-sendi keluarga. Terutama bila selingkuh itu telah diwarnai hubungan seksual. Lewat pernikahan diam-diam, apalagi zina.  

Tidak sedikit orang berselingkuh dan tidak merasa berdosa karena tidak berzina. “Kan cuma ‘curhat’, atau makan bareng,” kilahnya. Tapi, sulit bagi penyelingkuh buat menyangkal bahwa curhat itu adalah kerikil yang ia tabur sendiri ke tengah jalan perkawinannya. 

Kadang penyebab kandas perkawinan lebih sepele: “Sudah nggak cocok lagi!” Begitu ringan kalimat itu diucapkannya. Pasangan demikian, mungkin sangat berpengalaman berganti-ganti pacar sebelum menikah. Anak-anak sekarang biasa empat-lima kali ganti pacar sebelum menikah. Dalam pacaran, kalau ada masalah putus saja. Ngapain pusing.  

Kebiasaan itu dibawa ke perkawinan. Buat mereka pernikahan begitu kasual: toh banyak yang saat menikah sudah tak perjaka dan perawan. Pernikahan cuma sedikit lebih sakral ketimbang pacaran. Saya bersyukur tidak masuk kategori ‘anak sekarang’ itu. Semoga anak-anak saya pun tidak masuk kategori itu. 

Tapi, tak semua pasangan ‘nggak cocok’ memilih berpisah. Banyak pula yang memilih mempertahankan pernikahannya. “Awet rajet,” begitu kata orang Sunda. Bertengkar melulu tapi terus bertahan. Alasannya beragam. Misalnya, demi anak. Dalam model keluarga begini, kita akan sibuk mendaftar kesalahan pasangan sendiri. Kita cenderung menudingnya tak bertanggung jawab pada anak.  

Sangka kita, kita lebih bertanggung jawab dan lebih baik pada keluarga. Kita lupa bahwa pasangan hidup, sedikit banyak, adalah cermin diri sendiri. Jika nilai rapornya menurut kita merah, hampir pasti merah pula nilai rapor kita. Kita tak lebih baik dari pasangan kita. Mengapa kita tak memperbaiki diri sendiri saja? Biarkan ia memperbaiki dirinya sendiri pula. Mengapa kita terus menjadikan anak sebagai ‘senjata’ buat menghadapi pasangan sendiri? 

Ada pula model berkeluarga yang sekarang sedang menjadi ‘tren’. Biasanya, posisi suami di keluarga sangat dominan. Ketika ekonomi keluarga kian mapan, dan ikatan suami-istri tak lagi terbungai perasaan berdebar-debar, suami pun membidikkan mata dan hati pada perempuan lain. Berzina jelas haram. Solusinya adalah pernikahan. Istri dengan istri dipersandingkan. Tak penting bagaimana perasaan istri yang dulu seperti dijanjikan menjadi ratu keluarga sepanjang usia.  

Tak penting pula bagaimana perasan anak-anak, meskipun mereka merasa malu atas langkah ayahnya. Laki-laki demikian umumnya punya kemampuan untuk membuat istri dan anak-anaknya terdiam. Apalagi bila menggunakan alasan syariah. Sebuah format syariah yang berbeda dengan yang ditunjukkan pasangan Muhammad SAW-Khadijah: Mereka hidup bersama tanpa poligami hingga maut memisahkannya. 

Perjalanan 20 tahun pernikahan saya tidak semeriah kawan-kawan itu. Pesta pernikahan saya dulu sederhana saja. Saya merasa tidak sepantasnya bila awal perjalanan dipestakan megah. Saya dan istri lalu mengisi pernikahan dengan langkah-langkah sederhana. Misalnya, untuk sama sekali tidak pernah meninggikan suara karena hanya akan saling melukai.  

Juga untuk tidak mengatakan “saya kan sudah berkurban …” karena pernyataan itu sebenarnya lebih merupakan ekspresi menuntut dibanding sungguh-sungguh berkurban. Kami saling mendoakan, juga mendoakan secara spesifik anak-anak dengan menyebut nama satu persatu, setiap habis shalat. Juga menciptakan suasana agar setiap anggota melangkah hanya yang dapat membuat semua anggota keluarga lain dapat berjalan ‘tegak’. Itu langkah kami.  

Kini hari-hari kami banyak terisi dengan duduk bersama menikmati kesenyapan dengan tangan saling genggam, menunggu Subuh diazankan. Sungguh itu merupakan karunia luar biasa. Sebuah kenyamanan yang mencetuskan tanya istri saya: “Mengapa pada banyak orang begini saja tidak bisa? Apa sulitnya?” Saya tak tahu jawabnya. Saya hanya bisa berkata “Terima kasih ya.” 

12 Responses to “Terima Kasih Istriku : Yuk kita wujudkan Keluarga Sakinah”

  1. Wah mesra nyaa….mugo2 langgeng sampe kakek nenek, amien :-)

  2. sumeleh said

    Amien. Semoga banyak keluarga demikian. Sukron, atas silaturahimnya.

  3. Ini mas Zaim Uchrowi, perjalanan 20 tahun memang mungkin terasa cepat, tak terasa kita akan memasuki usia kepala 5.., 6…, 7 …, 8…, 9… mungkinkah kita bisa 10.., ini yang akan lebih penting

    # semoga Allah selalu menunjukkan jalan yang lurus dan memberikan kekuatan dalam dalam sisa umur kita. Amien.

  4. Ridho said

    syukurilah nikmatnya, jangan lupa jua berdoa unt menjaga hati untk tdk sombong. amin yra.

  5. judi said

    saya sedang mencari Iklhas adakah yang mau mengajarkannya?

  6. istiqomah said

    assalamualikum….
    pernikahan yang sakinah memang dambaan semua orang.untuk itu bagaimanan cara kita menuju kesana,diawali dengan niat menikah karena alloh swt serta berpedoman pada alquran dan al hadist.

  7. irfan setiyo said

    alhamdullillah
    jujur saya ingin merasakan kisah seperti kisah diatas,saya berharap semoga ALLAH memberikan istri yang sholeha buat saya, doakan saya ya, aminn..

  8. maz_isa said

    belum genap 1 tahun kami menikah….
    tapi membaca ini….
    gracias….thanks….

  9. fofo said

    kemarin dalam sebuah training yg menjadi tamu adalah pak Zaim… teduh sekali sosoknya, perawakannya menurut saya jauh lebih muda dari usianya… semoga saya yang sebentar lagi akan melaksanakan pernikahan bisa membina keluarga seperti keluarga pak zaim kelak… amiin.

  10. sumeleh said

    Fofo, Terima kasih atas kunjungannya. Semoga sukses di 3 bidang yang tengah digeluti. Dan insyaAllah kelak menjadi pasangan yang soleh & solehah juga sukses dunia akherat. Amin

  11. Mira said

    Puengen banget. Moga segera saya dapat menyusul untuk menyempurnakan separuh agama. Amin

  12. Semoga Allah selalu memberikan keindahan dan kesabaran dalam berkeluarga dab dapat membentuk keluarga yang sakinah…Aminnnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: