sumeleh

semua yang ada di alam semesta berdzikir kepada Allah Swt

MENGAPA SHOLAT FARDHU BERJAMAAH ?

Posted by heri purnomo on February 10, 2007



Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Kepada yang merasa berkepentingan dari kalangan kaum Muslimin, semoga Allah menunjukkan mereka ke jalan yang diridhaiNya serta membimbing saya dan juga mereka ke jalan orang-orang yang takut dan takwa kepadaNya. Amin Amma ba’du.

Telah sampai khabar kepada saya, bahwa banyak orang yang menyepelekan pelaksanaan shalat berjama’ah, mereka beralasan dengan adanya kemudahan dari sebagian ulama. Maka saya berkewajiban untuk menjelaskan tentang besarnya dan bahayanya perkara ini, dan bahwa tidak selayaknya seorang Muslim menyepelekan perkara yang diagungkan Allah di dalam KitabNya yang agung dan diagungkan oleh RasulNya yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menyebutkan perkara shalat di dalam KitabNya yang mulia dan mengagungkannya serta memerintahkan untuk memeliharanya dan melaksanakannya dengan berjama’ah. Allahpun mengabarkan, bahwa menyepelekannya dan bermalas-malas dalam melaksanakannya termasuk sifat-sifat kaum munafiqin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu” [Al-Baqarah : 238]

Bagaimana bisa diketahui bahwa seorang hamba memelihara shalat dan mengangungkannya, sementara dalam pelaksanaannya bertolak belakang dengan saudara-saudaranya, bahkan menyepelekannya ? Allah Ta’ala berfirman. “Artinya : Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukulah bersama orang-orang yang ruku” [Al-Baqarah : 43] Ayat yang mulia ini adalah nash yang menunjukkan wajibnya shalat berjamaah dan ikut serta bersama orang-orang yang melaksanakannya. Jika yang dimaksud itu hanya sekedar melaksanakannya (tanpa perintah berjamaah), tentu tidak akan disebutkan di akhir ayat ini kalimat (dan rukulah bersama orang-orang yang ruku’), karena perintah untuk melaksanakannya telah disebutkan di awal ayat.

Allah Ta’ala berfirman. “Artinya : Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata” [An-Nisa : 102]. 

Allah Subahanahu wa Ta’ala mewajibkan pelaksanaan shalat berjamaah dalam suasana perang, lebih-lebih dalam suasana damai. Jika ada seseorang yang dibolehkan meninggalkan shalat berjamaah, tentu barisan yang siap menghadap serangan musuh itu lebih berhak untuk diperbolehkan meninggalkannya. Namun ternyata tidak demikian, karena melaksanakan shalat secara berjama’ah termasuk kewajiban utama, maka tidak boleh seorangpun meninggalkannya.

Disebutkan dalam kitab Ash-Shahihaain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda. “Artinya : Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut” [Al-Bukhari, kitab Al-Khusumat 2420, Muslim, kitab Al-Masajid 651] Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku telah menyaksikan kami (para sahabat), tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat (berjama’ah) kecuali munafik yang nyata kemunafikannya atau orang sakit.

Bahkan yang sakit pun ada yang dipapah dengan diapit oleh dua orang agar bisa ikut shalat (berjama’ah)”. Ia juga mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita sunanul huda, dan sesungguhnya di antara sunanul huda itu adalah shalat di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 654] Lain dari itu juga mengatakan, “Barangsiapa yang ingin bertemu Allah kelak sebagai seorang Muslim, maka hendaklah ia memelihara shalat-shalat yang diserukan itu, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda, dan sesungguhnya shalat-shalat tersebut termasuk suanul huda. Jika kalian shalat di rumah kalian seperti shalatnya penyimpang ini di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat.

Tidaklah seorang bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian berangkat ke suatu masjid di antara masjid-masjid ini, kecuali Allah akan menuliskan baginya satu derajat serta dengannya pula dihapuskan darinya satu kesalahan. Sungguh aku telah menyaksikan kami (para sahabat), tidak ada seorangpun yang meninggalkan shalat (berjama’ah) kecuali munafik yang nyata kemunafikannya, dan sungguh seseorang pernah dipapah dengan diapit oleh dua orang lalu diberdirikan di dalam shaf (shalat)” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 257, 654]  Masih dalam Shahih Muslim, disebutkan riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki buta berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya keringanan untuk shalat di rumahku ?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya. “Artinya : Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat ? ia menjawab, “Ya”, beliau berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 653]

Banyak sekali hadits yang menunjukkan wajibnya shalat berjamaah dan wajibnya pelaksanaan shalat di rumah-rumah Allah yang dizinkan Allah untuk diserukan dan disebutkan namaNya. Maka wajib bagi setiap muslim adalah memperhatikan perkara ini, bersegera melaksanakannya dan menasehati anak-anaknya, keluarganya, tetangga-tetangganya dan saudara-saudara sesama Muslim, sebagai pelaksanaan perintah Allah dan RasulNya dan sebagai kewaspadaan terhadap larangan Allah dan Rasulnya, serta untuk menghindarkan diri dari menyerupai kaum munafiqin yang mana Allah telah menyebutkan sifat-sifat mereka yang buruk dan kemalasan mereka dalam melaksanakan shalat. Allah Ta’ala berfirman. “Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir) ; tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya” [An-Nisa : 142-143]

Lain dari itu, karena tidak melaksanakannya secara berjamaah termasuk sebab-sebab utama meninggalkannya secara keseluruhan.  Sebagaimana diketahui, bahwa meninggalkan shalat adalah suatu kekufuran dan kesesatan serta keluar dari Islam berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya : Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat” (Hadits Riwayat Muslim dalam kitab Shahihnya, dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu) [Muslim, kitab Al-Iman 82] Juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Artinya : Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir” [Hadits Riwayat Ahmad 5/346, At-Turmudzi 2621, An-Nasa'i 1/222, Ibnu Majah 1079] Banyak sekali ayat dan hadits yang menyebutkan tentang agungnya shalat dan wajibnya memelihara pelaksanaannya. Setelah tampak kebenaran ini dan setelah jelas dalil-dalilnya, maka tidak boleh seorang pun mengingkarinya hanya karena ucapan si fulan dan si fulan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman. “Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa : 59] Dalam ayat lain disebutkan. “Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” [An-Nur : 63] Kemudian dari itu, banyak sekali manfaat dan maslahat yang terkandung di balik shalat berjamaah, di antaranya yang paling nyata adalah : saling mengenal, saling tolong menolon dalam kebaikan dan ketakwaan, saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran, sebagai dorongan bagi orang yang meninggalkannya, sebagai pelajaran bagi yang tidak tahu, sebagai pengingkaran terhadap kaum munafiqin dan cara menjauhi gaya hidup mereka, menampakkan syi’ar-syi’ar Allah di antara para hambaNya, mengajak ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan perkataan dan perbuatan, dan sebagainya. Semoga Allah menunjukkan saya dan anda sekalian kepada yang diridhaiNya, dan kepada kemaslahatan urusan dunia dan akhirat, serta melindungi kita semua dari keburukan jiwa dan perbuatan kita, dan dari menyerupai kaum kuffar dan munafiqin. Sesungguhnya Dia Maha Baik lagi Maha Mulia. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya. [Asy-Syaikh Ibnu Baz, Tabshirah wa Dzikra, hal.53-57] [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 212-217 Darul Haq] Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=749&bagian=0 Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, ——————————— Sandhy S. Ardhi [EMAIL PROTECTED] Mauladi Sent by: assunnah@yahoogroups.com 07/31/2006 04:31 PM Please respond to assunnah To: assunnah@yahoogroups.com Subject: [assunnah] Hukum sholat berjamaah di masjid Assalamu’alaikum ww Apa hukum sholat berjamaah di masjid? Apa bernar wajib? Wasalamu’alaikum ww Mauladi

10 Responses to “MENGAPA SHOLAT FARDHU BERJAMAAH ?”

  1. Masjid dan mushalla muncul seperti cendawan di musim hujan di opersada Indonesia, sayangnya jama’ahnya kosong atau amat sedikit sekali. Saya khawatir dengan cara ini bangsa Indonesia berupaya menipu Allah. lalu Allah menjawabnya dengan musibah silih berganti sambung bersambung. Karena prilaku munafiq makin tumbuh subuh di negeri ini. Marilah kita mewajibkan pada setiap pribadi untuk mengajak siapa saja di sekeliling kita untuk memenuhi masjid dengan tulus ikhlas untuk menunaikan shalat berjama’ah. Wallu muwaffiq

  2. Masjid dan mushalla muncul seperti cendawan di musim hujan di opersada Indonesia, sayangnya jama’ahnya kosong atau amat sedikit sekali. Saya khawatir dengan cara ini bangsa Indonesia berupaya menipu Allah. lalu Allah menjawabnya dengan musibah silih berganti sambung bersambung. Karena prilaku munafiq makin tumbuh subur di negeri ini. Marilah kita mewajibkan pada setiap pribadi untuk mengajak siapa saja di sekeliling kita untuk memenuhi masjid dengan tulus ikhlas untuk menunaikan shalat berjama’ah. Wallu muwaffiq

  3. agorsiloku said

    Pengertian wajib itu apa ya Mas Sumeleh?. Kalau saya pahami sih wajib itu yo musti to. Jadi kalau nggak dilaksanakan yang wajib itu, ya berarti berdosa. Dan dosa itu maknanya terkena hukuman.
    Pertanyaan saya, apakah nabi selalu sholat berjamaah?.
    Rasanya nggak tuh. Jadi, menurut saya lo, judul ini menyesatkan karena mencampurkan pengertian wajib, anjuran, lebih baik, disarankan dengan inisiasi wajib. thx, agor

  4. sumeleh said

    Oh ya. Kalo shalat Taraweh, rasulullah kadang di rumah, kadang di Masjid Pak. Takut kalo nanti akan memberatkan umatnya. Nah untuk sholat 5 waktu, saya sedang cari yang menerangkan nabi shalat sendirian di rumah.

    Mendengar banyak hadist2 sahih di atas, memang takut juga jika kita tak memenuhi panggilan sholat berjamaah sementara tak ada halangan atau alasan sehingga kita tak dapat mendatangi sholat berjamaah. Misalnya sakit atau dalam keadaan darurat misalnya.

    Salah satunya kisah seorang buta yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA berikut : “dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki buta berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya keringanan untuk shalat di rumahku ?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya. “Artinya : Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat ? ia menjawab, “Ya”, beliau berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah”

    Hadist yang lebih keras lagi :
    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam telah bersabda, yang artinya: “Aku berniat memerintahkan kaum muslimin untuk mendirikan shalat. Maka aku perintahkan seorang untuk menjadi imam dan shalat bersama. Kemudian aku berangkat dengan kaum muslimin yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak mau ikut shalat berjamaah, dan aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari & Muslim)

    Sebagaimana kita tahu Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim ini adalah hadist sahih yang sering kita dengar.

    Mudah-mudahan Allah memberi kita kefahaman dalam menafsirkan hadist ini.

  5. agorsiloku said

    ya betul mas Sumeleh.. its oke, saya hanya ingin menegasi :
    Kata Wajib itu harus dilaksanakan, maka kalau tidak dilaksanakan berdosa. Pertanyaannya, berdosakan orang yang sholat sendirian?. Kalau tidak berdosa (apapun jenis sholatnya), maka judul itu bisa berinterpretasi lain lho…..

    Judul di atas, tidak membedakan antara sholat sunnat dan wajib sehingga bisa menimbulkan persepsi semua sholat harus berjamaah.. Padahal, nabi juga melakukan sholat malam sendirian…

    Namun, memang ada ayat yang menjelaskan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku (QS 2:43). Dari ayat itu, jelas bahwa kalau kita mo sholat, dan kita memilih sendiri tidak sesuai dengan perintah ayat ini. Jadi panggilan Azan itu, penuhilah. Begitukan kata nabi sama orang buta itu.

    Kembali pada pengertian wajib, masalahnya wajib itu jika ditinggalkan berdosa. Jadi, yang terpahami adalah pada saat orang-orang rukuk, dan kita tidak mau ruku bersama maka kita berdosa, menurut contoh nabi, ini hanya pada sholat-sholat wajib saja. Sedangkan untuk taraweh, emang itu jadi berjamaah oleh Mr. Umar B.K.

    Oh ya, mengenai hadits soal yang mo sholat bawa kayu bakar. Perhatikan redaksinya : “Sungguh aku sangat ingin…”.

    Maksud agor, hanya proposional saja. Maap ya kalo nambah-nambahin keliru.

  6. sumeleh said

    It’s ok juga Pak Agor. Terima kasih inputnya, redaksi “wajib” ini membuat saya takut kalo ini bisa dipahami secara salah termasuk saya sendiri. Untuk itu, lebih amannya saya ubah redaksinya “Mengapa Sholat Fardhu Berjamaah ? “, Kesimpulan dari tulisan ini kami serahkan kepada pembaca sekalian. Maklum, sama-sama mencari kebenaran. Mudah2 an hasil copy paste ini tidak menyesatkan.

    Jadi sebaiknya kita cukup memahami betapa keutamaannya sangat besar sekali, sehingga sholat fardhu berjama’ah sangat ditekankan untuk dilakukan secara berjama’ah.

    Thx.

  7. Mustaqim said

    Maaf aja kalau saya bicara kayak gini.

    saya adalah orang awam di dunia hukum islam dan saya ingin mempelajarinya, semenjak membaca ini saya merasa nambah bingung, takut, dan mana yang harus saya pegang.
    oleh sebab itu, saya mohon mana sih yang betul, dan sertakan dasar hukum yang lebih akurat dan terpercaya kalau bisa beserta tulisan arabnya. Thanks Sebelumnya!!!

  8. H Ali M Suwarto said

    Sebenar nya Sholat sendirian dan Sholat berjama’ah beda nya hanya di perolehan pahala saja ,tetapi kalo Sholat berjama’ah tidak memenuhi syarat yang di tentukan maka akan sia-sialah orang yang Sholatnya berjama’ah.yang sering menjadi masalah pada waktu Sholat ber jamaa’ah adalah masalah Shaft ,dimana anak-anak sering di campurkan atau disejajarkan dengan orang tua di barisan depan dan bila anak-anak yang dimaksud pada waktu melaksanakan Sholat ber jama’ah bermain-main dan sering mendahului Imam ,para Orang tua si anak tidak pernah menegur atau menasehatinya jadi inilah masalah yang sebenarnya timbul bila Sholat berjama’ah,jadi ada Plus minus nya malaksanakan Sholat sendiri dan berjama’ah dan dapat saya tambahkan bahwa kejadian ini sering dan selalu terjadi di daerah yang nota bene nya sih katanya daerah Santri..

  9. eshaka said

    alhamdulillah saya mengajarkan ank2 saya shalat 5wkt di masjid dan berhasil setelah berjalan selama 6bln dan sampai sekarang sudah otomatis sebelum azan atau saat azan ank2 kami langsung ke masjid, walaupun kami tidak dirumah, juga apabila sedang bepergian keluar kota,pak mengunai ank2 yg kurang khusyuk shalat dimasjid namanya juga anak2 rasul saw sendiri pernah sedang sujud dinaiki punggungnya oleh cucunya hasan dan husain, ank2 datang kemasjid harus kita beri apresiasi pak tinggal kita yang lebih faham dan lebih berpengalaman mengajari ank2 tsbt dgn sabar dan insyaALLAH pahalanya akan mengalir sampai setelah kita sudah meninggal (mengajarkan ilmu )waswrwb

  10. massatria said

    assalamualaikum,

    Terima kasih atas infonya n amalannya semoga kita dapat mengambil hikmahnya dan sebagai referensi yang membangun bagi ummat manusia khusunya Ummat muslim ..amien 2x ya robbal allamin..wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: